Depresi


DEFINISI DEPRESI Setiap tahap perubahan dalam perjalanan hidup manusia senantiasa mendatangkan perasaan tegang atau stres dalam jiwa manusia. Isi perasaan tegang itu tidak saja rasa gembira karena mendapatkan suatu keadaan atau benda yang sejak lama telah diidamkan atau yang sama sekali tidak dinyana, baik yang menggembirakan atau sebaliknya. Perasaan tegang juga timbul karena kecewa mengalami situasi yang sama sekali tak diduga dan tak diharapkan terjadi dalam hidupnya. Depresif merupakan gangguan suasana perasaan depresif atau Episode Depresif dulu dikenal sebagai Neurosa depresif, disebut juga gangguan distimik, berada dalam kelompok gangguan suasana perasaan (mood/afektif). Depresi biasanya terjadi saat stress yang dialami oleh seseorang tidak kunjung reda, dan depresi yang dialami berkorelasi dengan kejadian dramatis yang baru saja terjadi atau menimpa seseorang, misalnya kematian seseorang yang sangat dicintai atau kehilangan pekerjaan yang sangat dibanggakan. Stres merupakan suatu gangguan suasana perasaan (mood) yang menahun mencakup terdapatnya gangguan alam perasaan yang depresif (tertekan), hilangnya minat atau rasa senang dalam semua segi kegiatan kehidupan, termasuk lenyapnya semangat melakukan semua aktivitas yang disenangi dalam waktu senggangnya. Kondisi gangguan ini bisa berlangsung selama beberapa hari sampai beberapa minggu. Menurut seorang ilmuwan terkemuka yaitu Phillip L. Rice (1992), depresi adalah gangguan mood, kondisi emosional berkepanjangan yang mewarnai seluruh proses mental (berpikir, berperasaan dan berperilaku) seseorang. Pada umumnya mood yang secara dominan muncul adalah perasaan tidak berdaya dan kehilangan harapan. Depresi merupakan kondisi gangguan kejiwaan yang secara klinis tampil dalam bentuk perasaan murung, kehilangan gairah hidup, lesu, pesimis/putus asa,kehilangan rasa percaya diri. “Emosi, perilaku, dan cara berpikir turun, jadi lamban alias tidak gesit,” kata Dr. Tb. Erwin Kusuma, Sp.KJ dari Pro V Clinic. “Itu sudah tanda-tanda ke arah depresi. Lama-lama, ia tidak maumelihat kenyataan. Yang berat, muncul ide untuk meninggalkan semua denganjalan bunuh diri “ kata Erwin.Selain itu, depresi adalah suatu kondisi medis- psikiatri dan bukan sekedar suatu keadaansedih, bila kondisi depresi seseorang sampai menyebabkan terganggunya aktivitas sosial sehari-harinya maka hal itu disebut sebagai suatu Gangguan Depresi. MANIFESTASI KLINIS DEDPRESIF Manifestasi klinisnya mulai dari seluruh perhatian tersedot kepada peristiwa baru, mengurang perhatian kepada subjek lain, gangguan kualitas kinerja sampai mengalami kondisi tidak bisa istirahat, gelisah, dan tidak dapat tidur pada malam hari. Berkaitan dengan faktor usia, manifestasinya mirip dengan gejala gangguan episode depresi berat dengan perkecualian tidak ditemukan gejala waham dan hallusinasi. Gangguan kepribadian sering kali terdapat sebagai latar belakang gangguan ini, biasanya gangguan kepribadian siklotimik (mudah sekali merasa sangat sedih mendalam, tapi secara berperiodik bangkit kembali menjadi perasaan yang amat eforia, oleh faktor yang kecil saja). Terjadi hambatan dalam hubungan sosial dan fungsi pekerjaan dalam tahap ringan atau sedang, sesuai dengan kronisitas gangguannya bukan sebab beratnya gejala episode depresinya. Perawatan inap dirumah sakit jarang diperlukan, kecuali kuat sekali ide dan tentamen suicide, atau bertumpang tindih dengan gangguan afektif depresif berat. Karena sifat gangguan yang menahun itu pengidap memiliki resiko terpancing menjadi penyalahguna zat adiktif. Pada anak dan remaja terjadi gangguan interaksi personal dan sosial dengan teman sebaya dan orang detasa. Anak penyandang neurosa depresi benderung bereaksi bersifat fecatif terhadap penghargaan, pujian, terhadap hubungan Positif dengan sesama anggnta keLompok masyarakat, yang bermanifestasi sebagai ledakan rasa marah jengkel, yang tidak sewajarnya. Manifestasi gejala depresi dapat menetap atau muncul-hilang yang diselingi suasana alam perasaan normal untuk individu yang hanya berlangsung beberapa hari sampai beberapa minggu saja. Lama episode kambuh tidak lebih dari satu bulan. Dalam jangka lama akan berdampak pada kemajuan, prestasi akademik, relasi sosial dan pekerjaan, terutama jika tidak dikelola dengan baik dan kontinue. EPIDEMIOLOGI Depresi adalah masalah yang bisa dialami oleh siapapun di dunia ini. Menurut sebuah penelitian di Amerika, 1 dari 20 orang di Amerika setiap tahun mengalami depresi, dan paling tidak 1 dari 5 orang pernah mengalami depresi sepanjang sejarah kehidupan mereka. Di Indonesia, banyak kasus depresi terjadi sebagai akibat dari krisis yang melanda beberapa tahun belakangan ini. Masalah PHK, sulitnya mencari pekerjaan, sulitnya mempertahankan pekerjaan dan krisis keuangan adalah masalah yang sekarang ini sangat umum menjadi pendorong timbulnya depresi di kalangan profesional. Didapatkan fakta bahwa gangguan alam perasaan (mood) baik tipe bipolar (adanya episode manik dan depresi) dan tipe unipolar (hanya depresi saja) memiliki kecenderungan menurun kepada generasinya, berdasar etiologi biologik. Gangguan bipolar lebih kuat menurun ketimbang unipolar. 50% pasien bipolar mimiliki satu orangtua dengan gangguan alam perasaan/gangguan afektif, yang tersering unipolar (depresi saja). Jika seorang orangtua mengidap gangguan bipolar maka 27% anaknya memiliki risiko mengidap gangguan alam perasaan. Bila kedua orangtua mengidap gangguan bipolar maka 75% anaknya memiliki risiko mengidap gangguan alam perasaan. Selain itu,menurut hasil penelitian, Di Amerika, tercatat 10%-26% wanita mengalami depresi saat hamil. GEJALA DAN TANDA INSOMNIA Individu yang terkena depresi pada umumnya menunjukkan gejala psikis, gejala fisik & sosial yang khas, seperti murung, sedih berkepanjangan, sensitif, mudah marah dan tersinggung, hilang semangat kerja, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya konsentrasi dan menurunnya daya tahan. Sebelum kita menjelajah lebih lanjut untuk mengenali gejala depresi, ada baiknya jika kita mengenal apakah artinya gejala. Gejala adalah sekumpulan peristiwa, perilaku atau perasaan yang sering (namun tidak selalu) muncul pada waktu yang bersamaan. Gejala depresi adalah kumpulan dari perilaku dan perasaan yang secara spesifik dapat dikelompokkan sebagai depresi. Namun yang perlu diingat, setiap orang mempunyai perbedaan yang mendasar, yang memungkinkan suatu peristiwa atau perilaku dihadapi secara berbeda dan memunculkan reaksi yang berbeda antara satu orang dengan yang lain. Gejala-gejala depresi ini bisa kita lihat dari tiga segi, yaitu gejala dilihat dari segi fisik, psikis dan sosial. Secara lebih jelasnya, kita lihat uraian di bawah ini. a. Gejala Fisik Menurut beberapa ahli, gejala depresi yang kelihatan ini mempunyai rentangan dan variasi yang luas sesuai dengan berat ringannya depresi yang dialami. Namun secara garis besar ada beberapa gejala fisik umum yang relatif mudah dideteksi. Gejala itu seperti : ?Gangguan pola tidur (sulit tidur, terlalu banyak atau terlalu sedikit) ?Menurunnya tingkat aktivitas. Pada umumnya, orang yang mengalami depresi menunjukkan perilaku yang pasif, menyukai kegiatan yang tidak melibatkan orang lain seperti nonton TV, makan, tidur. ?Menurunnya efisiensi kerja. Penyebabnya jelas, orang yang terkena depresi akan sulit memfokuskan perhatian atau pikiran pada suatu hal, atau pekerjaan. Sehingga, mereka juga akan sulit memfokuskan energi pada hal-hal prioritas. Kebanyakan yang dilakukan justru hal-hal yang tidak efisien dan tidak berguna, seperti misalnya ngemil, melamun, merokok terus menerus, sering menelpon yang tak perlu. Yang jelas, orang yang terkena depresi akan terlihat dari metode kerjanya yang menjadi kurang terstruktur, sistematika kerjanya jadi kacau atau kerjanya jadi lamban. ?Menurunnya produktivitas kerja. Orang yang terkena depresi akan kehilangan sebagian atau seluruh motivasi kerjanya. Sebabnya, ia tidak lagi bisa menikmati dan merasakan kepuasan atas apa yang dilakukannya. Ia sudah kehilangan minat dan motivasi untuk melakukan kegiatannya seperti semula. Oleh karena itu, keharusan untuk tetap beraktivitas membuatnya semakin kehilangan energi karena energi yang ada sudah banyak terpakai untuk mempertahankan diri agar tetap dapat berfungsi seperti biasanya. Mereka mudah sekali lelah, capai padahal belum melakukan aktivitas yang berarti . ?Mudah merasa letih dan sakit. Jelas saja, depresi itu sendiri adalah perasaan negatif. Jika seseorang menyimpan perasaan negatif maka jelas akan membuat letih karena membebani pikiran dan perasaan ! ; dan ia harus memikulnya di mana saja dan kapan saja, suka tidak suka ! b. Gejala Psikis Perhatikan baik-baik gejala psikis di bawah ini, apakah Anda atau rekan Anda ada yang mempunyai tanda-tanda seperti di bawah ini : ?Kehilangan rasa percaya diri. Penyebabnya, orang yang mengalami depresi cenderung memandang segala sesuatu dari sisi negatif, termasuk menilai diri sendiri. Pasti mereka senang sekali membandingkan antara dirinya dengan orang lain. Orang lain dinilai lebih sukses, pandai, beruntung, kaya, lebih berpendidikan, lebih berpengalaman, lebih diperhatikan oleh atasan, dan pikiran negatif lainnya. ?Sensitif. Orang yang mengalami depresi senang sekali mengkaitkan segala sesuatu dengan dirinya. Perasaannya sensitif sekali, sehingga sering peristiwa yang netral jadi dipandang dari sudut pandang yang berbeda oleh mereka, bahkan disalahartikan. Akibatnya, mereka mudah tersinggung, mudah marah, perasa, curiga akan maksud orang lain (yang sebenarnya tidak ada apa-apa), mudah sedih, murung, dan lebih suka menyendiri. ?Merasa diri tidak berguna. Perasaan tidak berguna ini muncul karena mereka merasa menjadi orang yang gagal terutama di bidang atau lingkungan yang seharusnya mereka kuasai. Misalnya, seorang manajer mengalami depresi karena ia dimutasikan ke bagian lain. Dalam persepsinya, pemutasian itu disebabkan ketidakmampuannya dalam bekerja dan pimpinan menilai dirinya tidak cukup memberikan kontribusi sesuai dengan yang diharapkan. ?Perasaan bersalah. Perasaan bersalah terkadang timbul dalam pemikiran orang yang mengalami depresi. Mereka memandang suatu kejadian yang menimpa dirinya sebagai suatu hukuman atau akibat dari kegagalan mereka melaksanakan tanggung jawab yang seharusnya dikerjakan. Banyak pula yang merasa dirinya menjadi beban bagi orang lain dan menyalahkan diri mereka atas situasi tersebut. ?Perasaan terbebani. Banyak orang yang menyalahkan orang lain atas kesusahan yang dialaminya. Mereka merasa terbeban berat karena merasa terlalu dibebani tanggung jawab yang berat. c. Gejala Sosial Jangan heran jika masalah depresi yang berawal dari diri sendiri pada akhirnya mempengaruhi lingkungan dan pekerjaan (atau aktivitas rutin lainnya). Bagaimana tidak, lingkungan tentu akan bereaksi terhadap perilaku orang yang depresi tersebut yang pada umumnya negatif (mudah marah, tersinggung, menyendiri, sensitif, mudah letih, mudah sakit). Problem sosial yang terjadi biasanya berkisar pada masalah interaksi dengan rekan kerja, atasan atau bawahan. Masalah ini tidak hanya berbentuk konflik, namun masalah lainnya juga seperti perasaan minder, malu, cemas jika berada di antara kelompok dan merasa tidak nyaman untuk berkomunikasi secara normal. Mereka merasa tidak mampu untuk bersikap terbuka dan secara aktif menjalin hubungan dengan lingkungan sekalipun ada kesempatan. Gejala depresi pada anak sangat tidak khas, sama seperti gejala depresi pada orang lanjut usia. “Sehingga sering disebut depresi terselubung (‘mask depression’). Pada orang lanjut usia, depresi lebih banyak tampil dalam keluhan fisik kronis, menyangkut banyak organ, berganti-ganti dan tidak konsisten (somatisasi), serta tidak sesuai dengan hasil obyektif pemeriksaan medis. “Depresi pada lanjut usia juga sering muncul sebagai keluhan kognitif, seperti mudah lupa, sulit berkonsentrasi, dan malas berpikir.” Depresi pada anak lebih sering muncul dalam perilaku agresif, nightmare, atau keluhan keluhan somatis seperti anoreksia, gangguan pencernaan, dan sebagainya. Salah satu contoh depresi anak misalnya ketika ia punya adik baru. “Ia tidak menangis, tapi depresi ditunjukkan dengan bertingkah nakal,” jelas Erwin yang juga seorang psikiater anak. “Atau, tanpa sadar, anak mengulang hal-hal yang pernah dilakukannya dulu. Misalnya, mengompol. ‘Dulu saya ngompol, diperhatikan. Sekarang, tidak ngompol malah tidak diperhatikan. Kalau begitu, saya akan ngompol lagi’.” Tanda-Tanda Depresi Apakah depresi berat sudah berjangkit? Kenali lewat tanda-tanda dan gejalanya •lelah berkepanjangan •tidak bergairah •kehilangan minat dan kesenangan •selera makan dan/atau berat badan berubah secara signifikan. •gangguan tidur •tak bisa beristirahat •ceroboh •khawatir berlebihan •berpikir akan mati atau bunuh diri. Selain tanda-tanda non-fisik, tanda-tanda yang juga harus diwaspadai sebagai gejala depresi adalah adanya berbagai keluhan fisik/somatis seperti berat badan turun, disfungsi seksual, dan gangguan tidur. Sebuah pepatah lama mengatakan, “Jika kesedihan tidak diungkapkan dengan air mata, maka organ-organ tubuh lain-lah yang akan menangis. Ini yang disebut psikosomatik, yaitu gangguan terjadi di jiwa, tapi tampil di badan.” Misalnya, sakit maag. “Padahal semua bagus, makan teratur, tidak pernah makan yang pedas, tapi, kok, kena

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under fisioterapi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s